Tanjungtv.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Sambik Bangkol, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, mendapat sorotan serius. Bukan sekadar soal menu, namun sistem distribusi dan pengawasan makanan kini ikut dipertanyakan setelah ditemukannya buah salak dalam kondisi busuk yang dibagikan kepada siswa, kemarin (24/2).
Temuan itu dilaporkan terjadi di TKN Handayani Luk dan SDN 1 Sambik Bangkol. Seluruh pasokan MBG untuk sekolah-sekolah di desa tersebut diketahui berasal dari dapur SPPG Rempek yang berlokasi di Dusun Telagamaluku, Desa Rempek, Kecamatan Gangga.
Keluhan tak hanya datang dari siswa. Sejumlah orang tua murid menyuarakan kekecewaan mereka terhadap kualitas menu yang dianggap tidak layak konsumsi. Bahkan, persoalan ini disebut bukan kali pertama terjadi.
Kepala Desa Sambik Bangkol, Suhaedi, mengakui pihaknya telah berulang kali menerima aduan dari wali murid. Menurutnya, selain kualitas makanan, porsi yang diterima siswa juga dinilai tidak sebanding dengan anggaran program.
“Orang tua siswa sudah cukup lama menyampaikan keberatan, baik soal kualitas menu maupun porsi yang dianggap terlalu sedikit,” ujarnya.
Karena keluhan tersebut terus berulang tanpa perubahan signifikan, masyarakat akhirnya memilih menyampaikannya ke media agar menjadi perhatian luas. Suhaedi mengaku telah berkoordinasi langsung dengan pihak SPPG dan meminta agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Jangan sampai ada lagi salak busuk seperti yang ditemukan kemarin. Kualitas harus benar-benar dijaga,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Satgas MBG Lombok Utara, Rusdi, menyatakan pihaknya telah menerima laporan terkait temuan tersebut dan langsung menurunkan tim untuk melakukan pengecekan di lapangan.
“Teman-teman korwil sedang melakukan pengecekan, dan satgas akan segera menindaklanjuti,” katanya.
Rusdi menegaskan, insiden ini harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Mengingat Program MBG dirancang sebagai penopang asupan gizi siswa, kualitas bahan pangan dan sistem distribusi tidak boleh diabaikan.
“Kami minta ada evaluasi serius agar berdampak pada perbaikan kualitas dan pengawasan distribusi makanan. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali,” tegasnya.
Peristiwa ini pun menjadi pengingat bahwa keberhasilan program gizi bukan hanya terletak pada niat baik dan anggaran, tetapi juga pada konsistensi pengawasan hingga makanan benar-benar sampai ke tangan siswa dalam kondisi layak konsumsi.















