Tanjungtv.com — Persoalan tumpukan sampah di sisi timur kawasan Pasar Tanjung kian menjadi perhatian. Upaya pembersihan yang dilakukan setiap pagi oleh petugas tak mampu membendung kebiasaan pembuangan liar yang kembali terjadi menjelang sore hari.
Kepala UPTD Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lombok Utara (KLU), Wiratmo, menegaskan persoalan tersebut bukan lagi soal teknis pengangkutan, melainkan rendahnya kesadaran masyarakat.
“Setiap pagi kami bersihkan total. Tapi sore sudah penuh lagi. Ini bukan semata sampah pedagang,” ujarnya kesal, Kamis (19/2).
Menurut Wiratmo, sampah yang mendominasi justru limbah rumah tangga. Ia menyebut, sebagian warga dari luar kawasan pasar sengaja membuang sampah saat melintas.
“Sebagian besar itu sampah rumah tangga. Ada yang sengaja membawa kantong plastik lalu dibuang di sana,” tegasnya.
DLH KLU, lanjutnya, telah berulang kali menempatkan tong sampah serta memasang spanduk larangan. Namun fasilitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, pernah ditemukan tong sampah dalam kondisi kosong, sementara sampah justru berserakan di badan jalan.
“Tongnya kosong, tapi sampah malah dibuang sembarangan. Artinya ini soal perilaku,” katanya.
Sorotan juga datang dari Anggota Komisi II DPRD KLU, Artadi. Ia menyayangkan masih rendahnya kesadaran oknum masyarakat yang membuang sampah sembarangan, padahal petugas kebersihan telah bekerja setiap hari.
Artadi menilai penanganan persoalan ini tidak cukup hanya dengan pembersihan rutin. Ia mendorong langkah pengawasan yang lebih tegas, termasuk penempatan kontainer sampah tambahan serta pemasangan kamera pengawas (CCTV) di titik rawan.
“Nanti rekaman CCTV akan kita tayangkan supaya terlihat siapa yang buang sampah di sana. Ini cara kita memberikan pemahaman sekaligus efek jera kepada masyarakat,” ungkapnya.
Rencana penayangan rekaman tersebut diharapkan menjadi langkah edukatif sekaligus preventif, agar praktik pembuangan liar di kawasan Pasar Tanjung tidak terus berulang. Tanpa perubahan perilaku masyarakat, persoalan klasik ini dikhawatirkan akan terus menjadi siklus yang tak berujung.















