Tanjungtv.com – Di tengah pasang surut kondisi ekonomi, bisnis sarang walet tetap menjadi salah satu komoditas usaha yang menjanjikan, terutama bagi para pelaku usaha yang mampu berinovasi. Meski harga sarang walet bersifat fluktuatif, para pengusaha masih bisa meraup omzet belasan juta rupiah per bulan. Salah satu yang masih bertahan adalah Sentra Olahan Sarang Walet di Lombok Tengah, yang berlokasi tepat di belakang gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Lombok Tengah.
Daniel Arrohmain, pengelola Sentra Olahan Sarang Walet, berbagi cerita tentang bisnis yang digelutinya. Menurut Daniel, harga sarang walet sempat menyentuh angka fantastis, belasan juta rupiah per kilogramnya pada tahun 2015. Namun, kondisi pasar yang bergejolak membuat harga sarang walet turun signifikan. “Dulu harganya bisa Rp 12 juta per kilogram, tapi mulai April lalu, harga terus turun. Sekarang sudah berada di angka Rp 4 juta per kilogram,” ujarnya.
Meski pasar global sedang lesu, Daniel tidak menyerah. Ia berinovasi menciptakan produk olahan dari sarang walet yang lebih menarik bagi konsumen lokal. Salah satu produk inovatifnya adalah minuman sarang walet plus madu, yang terbuat dari sarang walet dengan tambahan madu asli. “Minuman ini sangat digemari di China, karena menyehatkan dan kaya manfaat,” jelas Daniel.
Sayangnya, meski khasiatnya terkenal, masyarakat Indonesia belum sepenuhnya melirik sarang walet karena harganya yang dinilai terlalu mahal. Untuk ukuran 250 gram saja, harganya bisa mencapai Rp 250 ribu. Untuk itu, Daniel membuat strategi baru. “Saya ingin agar produk olahan ini bisa disukai pasar lokal. Harganya harus lebih terjangkau, tapi tetap menyehatkan,” ungkapnya.
Daniel mengemas olahan sarang walet menjadi minuman segar yang dipasarkan di toko-toko kue basah dan ritel modern. Ia pun menambahkan madu sebagai pengganti gula untuk memberikan rasa manis yang alami. “Rasanya hampir seperti bihun yang direbus, teksturnya kenyal seperti natadecoco,” tambah Daniel.
Minuman kemasan sarang walet ini dibanderol dengan harga Rp 15 ribu untuk ukuran 150 mililiter dan Rp 35 ribu untuk kemasan 250 mililiter. Meski tanpa bahan pengawet, minuman ini bisa tahan hingga satu bulan di dalam kulkas. “Kebanyakan pelanggan saya membeli beberapa botol sekaligus untuk stok selama seminggu,” bebernya.
Dari usaha minuman kemasan ini, Daniel mampu meraup omzet hingga Rp 15 juta per bulan. Walaupun angka ini masih jauh dari omzet ratusan juta saat ia mengekspor sarang walet ke China, Daniel tetap optimis. “Kita tetap bersyukur. Sementara menunggu pasar global pulih, kita kenalkan produk ini ke pasar lokal yang mulai tertarik dengan minuman sehat,” tutupnya.
Dengan dedikasi dan inovasi seperti yang dilakukan Daniel, sarang walet terbukti masih menjadi komoditas yang menjanjikan, meskipun harus melalui berbagai tantangan pasar. Para pelaku usaha yang kreatif dan mampu beradaptasi, seperti Daniel, terus menunjukkan bahwa dengan inovasi dan ketekunan, peluang bisnis sarang walet tetap terbuka lebar.















