Tanjungtv.com – Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Kesehatan Hewan (Diskeswan) Lombok Timur, Drh. Hultatang, memperingatkan para peternak sapi agar lebih berhati-hati dalam menghadapi penyakit yang menyerang ternak mereka. Menurutnya, banyak peternak yang terjebak oleh trik saudagar sapi yang menakut-nakuti mereka dengan isu Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), padahal belum tentu sapi mereka terinfeksi penyakit tersebut. Taktik ini sering kali digunakan oleh saudagar untuk membeli sapi dengan harga murah.
“Jangan mau ditakut-takuti oleh saudagar sapi! Itu hanya trik agar peternak menjual sapi dengan harga rendah,” tegas Hultatang. Ia menekankan agar peternak tidak langsung menjual ternak yang menunjukkan gejala pincang atau leleran sebelum memastikan kondisi kesehatan ternak mereka kepada petugas yang berwenang.
Hultatang menjelaskan bahwa gejala seperti pincang dan leleran pada sapi tidak selalu berarti PMK. Ada penyakit lain yang memiliki gejala serupa, yaitu Bovine Ephemeral Fever (BEF), atau yang lebih dikenal dengan istilah “demam tiga hari.” Meski gejalanya mirip, BEF jauh lebih ringan dibandingkan dengan PMK yang bisa menyebabkan bengkak pada mulut dan luka pada kaki, membuat sapi pincang lebih parah.
“Peternak harus lebih berhati-hati dan jangan mudah percaya ketika ada yang mengatakan sapi mereka terkena PMK. Banyak yang langsung menjual sapi mereka karena takut, padahal itu tidak selalu benar,” lanjutnya. Hultatang menekankan pentingnya pemeriksaan intensif dan uji laboratorium untuk memastikan kondisi kesehatan ternak.
Lombok Timur memang masih menghadapi sejumlah kasus PMK, namun jumlahnya sangat kecil, terutama karena sebagian besar sapi sudah mendapatkan vaksinasi. “Jangan buru-buru menjual sapi yang pincang tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini bisa menyebabkan peternak rugi besar karena menjual sapi yang sebenarnya masih bisa disembuhkan,” ujarnya lagi.
Ia juga menegaskan pentingnya vaksinasi untuk melindungi sapi dari PMK. Menurut Hultatang, vaksinasi bertahap dari dosis pertama hingga dosis keempat sangat penting dalam melindungi sapi dari berbagai penyakit. “Meskipun sapi terkena PMK, jangan panik dan jangan buru-buru dijual. Penyakit ini masih bisa disembuhkan jika ditangani dengan benar, terutama pada sapi biasa yang tubuhnya mampu menahan beban,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Timur, H. Masyhur, menambahkan bahwa program vaksinasi di wilayah tersebut sudah berjalan dengan baik. “Sekitar 90 persen sapi di Lombok Timur telah mendapatkan vaksinasi lengkap. Namun, masih ada beberapa sapi yang belum divaksin, terutama sapi yang baru lahir dan yang didatangkan dari luar daerah,” jelasnya.
Menurut Masyhur, vaksinasi lengkap sangat penting untuk membangun kekebalan tubuh yang kuat pada sapi. “Jika sapi sudah divaksin lengkap, peluang terkena PMK sangat kecil. Kekebalan tubuh yang kuat akan mampu melawan virus dengan lebih efektif,” pungkasnya.
Dengan adanya langkah-langkah pencegahan yang tepat, diharapkan para peternak sapi di Lombok Timur dapat menjaga kesehatan ternak mereka dan menghindari kerugian akibat penjualan dengan harga murah. Perhatian terhadap gejala penyakit dan upaya vaksinasi menjadi kunci dalam melindungi populasi sapi di wilayah tersebut.















