Tanjungtv.com – Proses tender pembangunan Sekolah Rakyat di Dusun Amor-Amor, Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) akhirnya tuntas. Pemerintah daerah kini bersiap memulai pekerjaan fisik yang akan diawali dengan peletakan batu pertama dalam waktu dekat.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) KLU, Fathurrahman, memastikan seluruh tahapan persiapan telah rampung. Tim teknis bahkan sudah turun langsung ke lokasi untuk mengecek kesiapan lahan, memastikan proyek berjalan tanpa hambatan saat konstruksi dimulai.
“Insyaallah dalam waktu dekat mulai peletakan batu pertama. Semua sudah siap,” ujarnya, Rabu (25/2).
Agenda peletakan batu pertama direncanakan dihadiri Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal dan Bupati KLU Najmul Akhyar. Kehadiran dua pimpinan daerah tersebut menjadi simbol komitmen kuat pemerintah dalam menghadirkan akses pendidikan yang lebih merata bagi masyarakat kurang mampu.
Sebelumnya, proses tender sempat memakan waktu cukup panjang, berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Februari 2026. Berdasarkan data Layanan Pengadaan Secara Elektronik Pekerjaan Umum, lelang proyek ini diikuti 107 peserta, menunjukkan tingginya minat terhadap pembangunan fasilitas pendidikan berskala besar tersebut.
Tender akhirnya dimenangkan PT Budigraha Perkasa Utama yang beralamat di Jalan Dagan No.18/5A, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, Sumatra Utara. Perusahaan tersebut mengajukan penawaran sebesar Rp241,97 miliar dari pagu anggaran Rp250,42 miliar.
Dari sisi administrasi, seluruh dokumen telah dinyatakan lengkap, termasuk analisis dampak lalu lintas serta dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Hal ini menegaskan bahwa proyek tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan sekitar.
Sekolah Rakyat di Amor-Amor dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu, mencakup jenjang SD, SMP hingga SMA dalam satu area. Fasilitasnya dilengkapi asrama dan sarana penunjang lainnya, sehingga siswa dapat tinggal dan belajar dalam satu lingkungan yang terintegrasi.
Program ini secara khusus menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu yang masuk kategori desil 1 dan 2 berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Seluruh kebutuhan siswa—mulai dari biaya pendidikan, makan, pakaian hingga tempat tinggal—akan ditanggung pemerintah.
Konsep berasrama ini diharapkan mampu memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan yang lebih terarah dan berkelanjutan. Dengan sistem pembinaan penuh waktu, Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya mencetak lulusan berpendidikan, tetapi juga membangun karakter dan kemandirian generasi muda Lombok Utara.
“Mereka langsung menetap di sana,” tutup Fathurrahman.















