Tanjungtv.com — Popularitas Gili Trawangan sebagai destinasi wisata kelas dunia ternyata belum sejalan dengan kesiapan layanan kesehatan dasar. Hingga kini, kawasan yang setiap hari dipadati wisatawan mancanegara itu masih belum memiliki puskesmas aktif. Bangunan Puskesmas Gili bahkan telah terbengkalai sejak 2018, menyisakan ironi di tengah gemerlap industri pariwisata.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara (KLU), dr. Lalu Bahrudin, mengakui bahwa absennya puskesmas menjadi persoalan serius, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Meski Puskesmas Gili masuk dalam program prioritas daerah, realisasinya kembali tersendat akibat keterbatasan fiskal.
“Tenaga kesehatan sebenarnya sudah siap. Di puskesmas pembantu sudah ada dokter, perawat, dan bidan. Tapi pelayanan yang ada belum bisa menggantikan fungsi puskesmas secara utuh,” ujarnya, Sabtu (13/12).
Saat ini, layanan kesehatan pemerintah di kawasan Gili masih bertumpu pada pustu serta klinik-klinik swasta. Kondisi tersebut dinilai belum ideal, mengingat puskesmas berperan penting sebagai garda terdepan layanan kesehatan dasar sekaligus penyangga sistem rujukan, terutama di wilayah kepulauan yang aksesnya terbatas.
Menurut Bahrudin, keberadaan puskesmas tidak hanya menjadi kebutuhan warga, tetapi juga faktor penting dalam menjamin keamanan wisata. “Gili ini kawasan wisata internasional. Layanan kesehatan pemerintah harus hadir untuk menjaga keseimbangan dengan klinik swasta yang terus tumbuh,” katanya.
Dari sisi anggaran, pembangunan Puskesmas Gili diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp2,5 miliar. Angka tersebut relatif lebih kecil karena hanya melanjutkan bangunan lama. Hasil pengecekan bersama Dinas PUPR menunjukkan struktur bangunan masih kuat dan layak digunakan. “Kendalanya murni di anggaran,” tegasnya.
Puskesmas Gili Trawangan sebelumnya dibangun menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) pada 2017 dengan nilai lebih dari Rp4 miliar. Namun proyek tersebut terhenti akibat gempa bumi 2018, saat progres pembangunan baru mencapai sekitar 40 persen. Sejak itu, bangunan dibiarkan terbengkalai tanpa kelanjutan.
Selain Puskesmas Gili, Dinas Kesehatan KLU juga mencatat sejumlah program prioritas lain yang terhambat anggaran, seperti penambahan gedung Puskesmas Kayangan serta pembangunan pustu baru di desa-desa yang belum memiliki layanan kesehatan dasar.
“Untuk sementara, kami harus menentukan skala prioritas. Fokus terdekat adalah pembangunan Rumah Sakit Tipe D di Bayan yang direncanakan mulai tahun depan,” pungkas Bahrudin.
Di tengah geliat pariwisata yang terus tumbuh, kondisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga harus menjamin keselamatan dan kesehatan semua pihak yang tinggal dan berkunjung ke Gili Trawangan.















