Tanjungtv.com – Universitas Mataram (Unram) kembali menggebrak dengan inovasi terbarunya yang mampu mengguncang dunia pertanian dan perikanan Indonesia! Melalui proyek riset luar biasa, Unram memperkenalkan teknologi budidaya ikan yang dirancang khusus untuk daerah-daerah dengan keterbatasan sumber air dan lahan, menandai langkah besar dalam menjaga ketahanan pangan serta meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah terpencil.
Proyek ambisius ini dipimpin oleh Dr. Zaenal Abidin, ketua peneliti yang juga dikenal sebagai ahli dalam budidaya perikanan. Menurut Zaenal, teknologi ini memadukan dua sistem mutakhir, yaitu resirkulasi dan bioflok. Kombinasi yang memukau ini memungkinkan pemanfaatan air secara efisien dan ramah lingkungan, menjawab tantangan sumber daya alam yang selama ini menjadi masalah utama bagi daerah-daerah yang kekurangan air.
“Kami hadir dengan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan oleh masyarakat di daerah-daerah yang selama ini menghadapi kendala besar dalam hal sumber daya air dan lahan. Teknologi ini tidak hanya efisien dalam penggunaan air, tetapi juga sangat ramah lingkungan,” ujar Zaenal dengan penuh keyakinan.
Teknologi ini mendapat dukungan penuh dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), menjadikan inovasi ini sebagai wujud nyata dari pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi. Setelah serangkaian uji coba yang dilakukan di laboratorium Unram, teknologi ini siap diterapkan secara luas di masyarakat dengan target utama daerah-daerah yang selama ini terpinggirkan oleh masalah ketersediaan air.
Zaenal menambahkan bahwa teknologi ini menjawab tantangan utama dalam sistem resirkulasi tradisional yang membutuhkan filterisasi air yang mahal dan padat karya. Dengan penggabungan teknologi bioflok, yang mampu mengubah sisa pakan dan kotoran ikan menjadi makanan tambahan bagi ikan, sistem ini menawarkan efisiensi luar biasa yang sangat relevan untuk daerah-daerah dengan keterbatasan.
Lompatan Besar dalam Budidaya Ikan
Bagi banyak petani ikan di daerah terpencil, kendala biaya dan efisiensi seringkali menjadi penghalang utama. Namun, teknologi kombinasi resirkulasi-bioflok ini tidak hanya mengurangi kebutuhan filterisasi yang mahal, tetapi juga memungkinkan petani untuk memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah limbah menjadi sumber makanan bagi ikan. Hasilnya? Kualitas air yang lebih stabil, konsumsi energi yang lebih rendah, dan potensi hasil panen yang lebih tinggi!
“Dengan teknologi ini, kami telah mengurangi kebutuhan energi yang diperlukan untuk aerasi, sehingga konsumsi listrik menjadi jauh lebih hemat,” tambah Zaenal.
Saat ini, program percontohan tengah berlangsung di Desa Gondang, di mana kelompok tani dilibatkan secara langsung dalam seluruh proses, mulai dari perakitan kolam hingga penebaran ikan. Proyek ini melibatkan lima kolam terpal dengan target produksi minimal 300 kilogram ikan nila dalam satu siklus pemeliharaan. Hasil penjualan eceran ikan diharapkan mampu memberikan penghasilan tambahan minimal Rp 4 juta per siklus bagi mitra petani.
Masa Depan Ketahanan Pangan Semakin Cerah
Dengan potensi besar yang ditawarkan oleh teknologi ini, Unram optimis bahwa inovasi ini akan menjadi solusi jangka panjang untuk masalah ketahanan pangan di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang selama ini diabaikan. Dengan pemanfaatan sumber daya air yang minim dan lahan yang terbatas, teknologi ini memungkinkan petani untuk mengoptimalkan hasil budidaya mereka tanpa harus mengorbankan efisiensi atau lingkungan.
Program ini tidak hanya menunjukkan komitmen Unram dalam memberikan solusi praktis bagi masyarakat, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai pionir dalam inovasi teknologi pertanian dan perikanan di Indonesia.
“Inovasi ini adalah langkah kecil kami untuk menciptakan dampak besar bagi ketahanan pangan di seluruh negeri,” pungkas Zaenal dengan penuh harapan.
Dengan inovasi revolusioner ini, Unram tidak hanya mengatasi tantangan pangan, tetapi juga memberikan harapan baru bagi masyarakat di daerah yang selama ini terpinggirkan.















