Warga KLU Butuh RTG, Bukan Retorika! Kritik Keras dari Anton Sahertian di Tengah Musim Hujan dan Kunjungan Rocky Gerung.

kondisi rumah rtg di lombok utara
banner 120x600
banner 468x60

tanjungtv.com-Ketika musim hujan tiba, harapan masyarakat Kabupaten Lombok Utara (KLU) untuk segera mendapatkan Rumah Tahan Gempa (RTG) kembali mencuat ke permukaan. Janji pemerintah yang belum juga terealisasi menuai kritik dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Anton Sahertian, seorang aktivis masyarakat yang dengan lantang menyuarakan keresahan warga KLU di sebuah grup media sosial, tepat saat tokoh nasional Rocky Gerung baru saja mengunjungi wilayah tersebut.

Dalam pernyataannya, Anton menegaskan bahwa masyarakat Lombok Utara tidak lagi membutuhkan retorika yang mengalihkan perhatian, melainkan aksi nyata dari pemerintah untuk segera menyelesaikan pembangunan RTG yang dijanjikan sejak bencana gempa melanda pada 2018 silam. “Masyarakat KLU tidak butuh RG (Rocky Gerung), yang dibutuhkan adalah RTG! Musim hujan telah tiba, jangan sampai doa para korban gempa yang belum mendapatkan RTG saat hujan turun langsung diijabah Allah,” ujar Anton dengan nada tegas.

banner 325x300

Keresahan masyarakat semakin memuncak seiring dengan datangnya musim hujan yang berpotensi memperburuk kondisi mereka yang belum mendapatkan tempat tinggal yang layak. Banyak dari korban gempa Lombok masih tinggal di tenda atau rumah sementara yang tidak cukup kuat menahan derasnya hujan, angin kencang, dan risiko banjir. Anton bahkan mengingatkan bahwa doa orang-orang yang teraniaya, khususnya korban bencana, sangatlah kuat. “Ini adalah doa orang teraniaya yang doanya langsung menembus langit ketujuh dan menggetarkan Arsy Allah,” tambahnya dengan mengutip ajaran Islam.

Kunjungan Rocky Gerung ke Lombok Utara kemarin sempat menyita perhatian publik. Namun, menurut Anton, kedatangan tokoh-tokoh nasional seperti Rocky tidak banyak memberikan solusi konkrit bagi masyarakat yang masih membutuhkan RTG. Alih-alih disibukkan dengan diskusi intelektual, Anton menekankan bahwa pemerintah harus segera bertindak cepat dan efektif dalam mewujudkan janji-janji terkait penyediaan rumah bagi para korban gempa yang masih bertahan dalam kondisi memprihatinkan.

Lebih lanjut, Anton mengingatkan tentang pepatah yang diambil dari kisah sahabat Nabi, Umar bin Khattab. “Aku tidak takut pada ribuan pasukan Bizantium Romawi. Yang aku takutkan adalah doa rakyatku yang terzalimi,” katanya. Hal ini menjadi sindiran keras bagi para pemangku kebijakan, bahwa ketidakadilan dan keterlambatan dalam memberikan hak kepada masyarakat yang terzalimi dapat membawa akibat yang jauh lebih besar dari ancaman fisik apa pun.

Di sisi lain, banyak masyarakat Lombok Utara yang mengungkapkan kekecewaan mereka melalui media sosial dan forum-forum publik. Mereka merasa bahwa janji-janji pembangunan RTG yang dijanjikan pemerintah pusat maupun daerah hanya tinggal kata-kata. Terlebih lagi, dengan cuaca ekstrem yang mulai melanda kawasan tersebut, banyak warga yang khawatir jika tidak segera mendapatkan rumah tahan gempa, keselamatan mereka semakin terancam.

Salah satu warga, Mariam (45), yang hingga kini belum mendapatkan rumah tahan gempa mengungkapkan kekecewaannya. “Kami sudah lelah menunggu. Setiap hujan turun, air masuk ke dalam rumah sementara kami. Anak-anak tidak bisa tidur, dindingnya pun sudah mulai roboh. Kami hanya bisa berdoa agar segera diberikan bantuan,” ungkapnya dengan raut wajah penuh harap.

Tidak hanya Mariam, banyak korban gempa Lombok lainnya yang juga masih berjuang dalam kondisi sulit. Meskipun bantuan datang dari berbagai pihak setelah bencana melanda, proses realisasi rumah tahan gempa yang dijanjikan belum tuntas hingga saat ini.

Kritik ini juga mendapat perhatian dari beberapa tokoh agama yang turut memberikan pandangannya. Mereka menilai bahwa doa masyarakat yang masih teraniaya karena belum mendapatkan hak mereka sebagai korban bencana, merupakan sesuatu yang sangat berbahaya jika diabaikan oleh pemerintah. “Allah mendengar doa mereka, dan sebagai pemimpin, kita wajib menunaikan hak mereka sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi,” ujar seorang ustadz setempat.

Saat ini, masyarakat Lombok Utara hanya bisa berharap agar pemerintah segera merealisasikan janji-janjinya terkait RTG. Musim hujan yang mulai datang seolah menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan dan kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal yang layak semakin mendesak.

Apakah pemerintah akan mendengar jeritan warga KLU yang membutuhkan RTG sebelum musim hujan ini semakin parah? Ataukah janji-janji tersebut akan kembali tenggelam dalam perdebatan tanpa solusi yang jelas? (nan)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *