Tanjungtv.com – Masyarakat Kabupaten Lombok Utara (KLU) diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) seiring dengan datangnya musim hujan. Puncak curah hujan yang diperkirakan terjadi pada November hingga Desember mendatang diprediksi menjadi waktu yang rawan terjadinya lonjakan kasus DBD, mengingat nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus DBD, berkembang biak dengan cepat di genangan air.
Rasiatun, Sub Koordinator Bidang Pencegahan dan Penanganan Penyakit pada Dinas Kesehatan KLU, menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. “Peningkatan curah hujan akan memperbanyak genangan air, dan genangan air ini menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Kita sampaikan kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi DBD saat musim hujan tiba,” jelas Rasiatun pada Selasa (22/10).
Dinas Kesehatan KLU juga menggalakkan program 3M Plus sebagai langkah pencegahan. Program ini meliputi menguras, menutup, dan mendaur ulang atau mengubur barang-barang yang bisa menjadi tempat penampungan air. Rasiatun menjelaskan, “Masyarakat harus rutin menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi, ember, dan penampungan air lainnya. Selain itu, wadah air harus ditutup rapat agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur di dalamnya. Barang-barang bekas seperti kaleng, botol plastik, dan ban bekas juga harus didaur ulang atau dikubur agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.”
Lebih lanjut, ia juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan obat nyamuk atau kelambu saat tidur siang, mengingat nyamuk Aedes aegypti biasanya aktif menggigit pada siang dan sore hari. “Langkah-langkah sederhana ini sangat efektif jika dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga. Jangan menunggu hingga ada kasus, karena begitu nyamuk penyebar virus berkembang, penularan bisa terjadi dengan cepat,” tambahnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan KLU, dari Januari hingga September 2024, tercatat ada 538 kasus DBD di wilayah tersebut. Rinciannya, Januari mencatat 35 kasus, Februari 44 kasus, Maret 106 kasus, April 88 kasus, Mei 86 kasus, Juni 66 kasus, Juli 56 kasus, Agustus 26 kasus, dan September 31 kasus. Meski demikian, Rasiatun menyebut bahwa seluruh pasien berhasil sembuh berkat perawatan intensif yang diberikan oleh fasilitas kesehatan setempat.
“Untuk bulan Oktober ini baru tercatat 2 kasus, dan kami terus berupaya untuk menekan jumlah kasus agar tidak meningkat. Masyarakat diharapkan lebih proaktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan langkah-langkah pencegahan,” tutup Rasiatun.
Dengan datangnya musim hujan yang kerap kali memicu ledakan populasi nyamuk, langkah preventif seperti program 3M Plus harus menjadi kebiasaan yang terus dijalankan masyarakat KLU untuk meminimalkan risiko penyebaran virus DBD.















