Tanjungtv.com – Di tengah minimnya sorotan terhadap pembinaan olahraga daerah, Anggota DPRD NTB, Fakhruddin, justru menempuh jalur berbeda. Ia tidak sekadar berbicara soal kemajuan sepak bola, tetapi membangunnya dari akar—melalui klub yang ia dirikan sendiri di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Bost Tepost FC.
Klub ini bukan sekadar tim kompetisi. Bost Tepost FC menjelma menjadi ruang pembinaan serius bagi talenta muda lokal. Pemainnya direkrut dari berbagai penjuru KSB, dengan fokus utama pada pelajar usia SMA yang memiliki bakat dan kecintaan terhadap sepak bola.
“Kami memang fokus mengembangkan talenta lokal,” ujar Fakhruddin, kemarin (23/4).
Pendekatan tersebut terbukti tidak sia-sia. Di bawah tangan pelatih yang konsisten membina, para pemain muda itu tumbuh menjadi skuad yang solid dan kompetitif. Bost Tepost FC bahkan berulang kali menjuarai Liga 1 KSB, menjadikannya salah satu klub paling disegani di tingkat lokal.
Menariknya, dominasi ini justru melahirkan dinamika tersendiri. Bagi klub lain, mengalahkan Bost Tepost FC bukan sekadar kemenangan biasa—melainkan kebanggaan.
“Karena kami kuat, klub-klub lokal yang lain merasa bangga kalau bisa mengalahkan Bost Tepost,” katanya.
Namun, bagi Fakhruddin, sepak bola bukan hanya soal trofi. Ia melihat olahraga sebagai alat pemersatu masyarakat yang efektif, terutama di daerah. Popularitas sepak bola menjadi modal sosial yang bisa menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu semangat.
Lebih jauh, ia menyimpan ambisi yang belum tercapai: menghadirkan klub profesional dari KSB yang mampu bersaing di level nasional.
“Harapan saya, KSB bisa memiliki klub profesional yang mampu tampil sampai ke pentas nasional,” tegas anggota Komisi IV DPRD NTB tersebut.
Tak berhenti di sepak bola, kontribusinya di dunia olahraga juga merambah cabang lain. Fakhruddin diketahui memimpin klub bola voli bernama Keng Kang, bahkan sempat dipercaya sebagai Ketua PBVSI KSB.
Langkah Fakhruddin menunjukkan bahwa pembangunan olahraga tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Kadang, perubahan justru lahir dari lapangan kecil—tempat anak-anak muda ditempa, mimpi dirawat, dan masa depan olahraga daerah mulai dibangun.















